Melamar pekerjaan di bidang marketing itu unik. Beda dengan posisi lain, saat kamu melamar sebagai marketer, kamu sedang menjalani ujian praktik pertamamu.
Rekruter bakal mikir: “Kalau dia nggak bisa melakukan riset pasar tentang perusahaan kami, gimana dia bisa meriset pasar untuk produk kami nanti?”
Lamaran marketing yang generik (“Saya kreatif & pekerja keras”) sudah pasti bakal ditolak. Untuk dapat perhatian, kamu harus tunjukkan kalau kamu paham merek, audiens, dan tantangan mereka.
Berikut panduan langkah demi langkah melakukan riset agar lamaranmu “tajam” dan memikat!
🎨 1. Bedah Identitas & ‘Tone of Voice’ Brand
Seorang marketer harus bisa jadi “bunglon” yang menyesuaikan gaya komunikasinya dengan brand.
-
Cara Riset: Buka website, Instagram, LinkedIn, dan TikTok mereka. Baca caption dan artikel blognya.
-
Apa yang Dicari: Apakah gayanya formal, santai, humoris, atau inspiratif? Apa core values mereka?
-
Aplikasi: Sesuaikan gaya penulisan Cover Letter dan CV-mu. Kalau brand-nya anak muda yang santai, jangan tulis surat lamaran kaku ala surat dinas!
🕵️♀️ 2. Lakukan ‘Mini-Audit’ Kanal Pemasaran Mereka
Ini langkah yang membedakan pelamar biasa dengan pelamar bermental strategis.
-
Cara Riset: Lihat di mana mereka aktif. Instagram ramai tapi TikTok sepi? Blog-nya jarang update?
-
Apa yang Dicari: Temukan celah atau peluang. Contoh: “Konten bagus, tapi jarang balas komentar (engagement rendah).”
-
Aplikasi: Di surat lamaran, sebutkan pengamatanmu dengan sopan. “Saya melihat potensi besar pada kanal TikTok [Nama Perusahaan] yang sedang tumbuh, dan saya punya strategi konten untuk meningkatkannya…”
👥 3. Pahami Produk & Target Audiens (Buyer Persona)
Kamu nggak bisa memasarkan sesuatu yang nggak kamu pahami.
-
Cara Riset: Baca review pelanggan di Google Maps, marketplace, atau komentar medsos. Apa yang mereka suka? Apa yang mereka keluhkan?
-
Apa yang Dicari: Pain points (masalah) pelanggan dan keunggulan unik produk.
-
Aplikasi: Tunjukkan kamu mengerti siapa pelanggan mereka. “Dengan pengalaman saya menargetkan Gen-Z di industri F&B, saya yakin dapat membantu [Nama Perusahaan] menjangkau segmen ini.”
⚔️ 4. Intip Tetangga Sebelah (Kompetitor)
Perusahaan selalu ingin menang persaingan. Kalau kamu tahu siapa lawannya, kamu punya nilai tambah.
-
Cara Riset: Googling “[Jenis Produk] vs…”. Lihat siapa yang muncul di iklan.
-
Apa yang Dicari: Apa yang dilakukan kompetitor yang belum dilakukan perusahaan ini?
-
Aplikasi: Gunakan ini saat interview atau di cover letter. “Saya perhatikan kompetitor X gencar main influencer. Saya punya ide strategi tandingan yang lebih efisien secara budget…”
📰 5. ‘Kepo-in’ Berita & Pencapaian Terbaru
Menunjukkan bahwa kamu up-to-date adalah tanda antusiasme yang tulus.
-
Cara Riset: Cek tab “News” di Google atau LinkedIn perusahaan.
-
Apa yang Dicari: Produk baru, ekspansi cabang, atau pendanaan baru (startup).
-
Aplikasi: Gunakan sebagai pembuka surat lamaran. “Selamat atas peluncuran produk [Nama Produk] minggu lalu. Saya sangat terkesan dengan strateginya…”
💡 Jangan Cuma Disimpan, Gunakan Data Risetmu!
Hasil riset ini adalah amunisimu. Gunakan untuk:
-
Ubah CV: Soroti skill yang paling relevan dengan masalah yang kamu temukan (Misal: Mereka lemah di SEO? Taruh skill SEO-mu paling atas!).
-
Personalisasi Cover Letter: Jangan pakai template. Tulis surat spesifik yang membahas tantangan mereka.
-
Siapkan ‘Senjata’ Interview: Saat ditanya “Ada pertanyaan?”, ajukan pertanyaan strategis berdasarkan risetmu. Dijamin pewawancara bakal kagum.
✨ Dari ‘Pencari Kerja’ Jadi ‘Konsultan Strategis’
Riset bukan sekadar cari alamat kantor. Bagi pelamar marketing, riset adalah proses memahami “medan perang”.
Dengan melakukan riset mendalam, kamu tidak lagi datang sebagai pencari kerja yang “meminta”, tetapi sebagai konsultan strategis yang menawarkan solusi.