Ada ironi besar di dunia kerja: banyak anak marketing yang jago banget bikin strategi penjualan produk orang lain, tapi gagal total saat harus “memasarkan” diri sendiri ke perusahaan.
Bagi pelamar di bidang ini, proses rekrutmen adalah ujian praktik pertamamu. Rekruter bakal mikir: “Kalau dia nggak bisa bikin dirinya sendiri terlihat menarik, gimana dia mau jual produk perusahaan kami?”
Persaingan di dunia digital marketing itu keras. CV standar udah nggak mempan. Biar nggak terus-terusan dapat email penolakan, hindari 5 kesalahan fatal ini!
📄 1. CV Isinya Cuma ‘Daftar Tugas’, Bukan ‘Daftar Hasil’
Ini kesalahan paling klasik. Banyak pelamar cuma copy-paste job description ke dalam CV.
-
Kesalahan: Menulis “Bertanggung jawab mengelola akun Instagram” atau “Menulis artikel blog mingguan.” (Membosankan!).
-
Solusinya: Marketing adalah tentang hasil (result). Ubah tugas jadi pencapaian pakai angka.
-
❌ Before: “Mengelola media sosial.”
-
✅ After: “Berhasil menumbuhkan followers Instagram sebesar 30% dalam 6 bulan secara organik lewat strategi Reels.”
-
🖼️ 2. Portofolio Cuma Pamer Gambar Tanpa Konteks
Mengirim folder Google Drive isinya gambar desain doang? Big No! Rekruter nggak tahu apa tujuan desain itu atau apakah itu sukses.
-
Solusinya: Gunakan format Studi Kasus. Setiap karya harus punya 3 elemen:
-
Tantangan: Apa masalah klien/perusahaan?
-
Solusi: Apa strategi atau desain yang kamu buat?
-
Hasil: Apa dampaknya? (Misal: Click-Through Rate tinggi, viral, atau pujian klien).
-
🧐 3. Datang Interview Tanpa ‘Mengaudit’ Perusahaan
Seorang marketer wajib punya rasa ingin tahu tinggi. Datang tanpa wawasan tentang perusahaan yang dilamar adalah dosa besar.
-
Kesalahan: Pas ditanya “Gimana pendapatmu soal marketing kami?”, kamu jawab “Bagus kok,” tanpa detail.
-
Solusinya: Lakukan Mini-Audit sebelum wawancara.
-
Cek medsos & website mereka.
-
Siapkan satu pujian dan satu saran perbaikan konkret.
-
Contoh: “Konten Instagram Bapak sudah konsisten, tapi saya melihat peluang besar untuk menaikkan interaksi lewat fitur Story Polls.”
-
🤹♂️ 4. Ngaku ‘Palugada’ (Apa Lu Mau Gue Ada)
Dunia marketing itu luas. Ngaku ahli SEO, SEM, Desain, Video, dan PR sekaligus malah bikin kamu terlihat tidak kredibel (kecuali kamu super senior).
-
Solusinya: Jadilah T-Shaped Marketer.
-
Tunjukkan kamu paham dasar yang luas (garis horizontal T).
-
Tapi punya satu atau dua keahlian mendalam (garis vertikal T).
-
Contoh: “Saya Digital Marketer dengan spesialisasi mendalam di Paid Advertising (Meta & Google Ads).” Ini jauh lebih meyakinkan.
-
🤖 5. Jago Tools, Tapi Kaku Kayak Robot (Lupa Soft Skill)
Marketing bukan kerja sendirian di dalam gua. Ini butuh kolaborasi intens sama tim produk dan sales.
-
Kesalahan: Terlalu pamer hard skill (tools canggih), tapi terlihat sombong atau kaku pas ngobrol.
-
Solusinya: Tunjukkan empati dan komunikasi. Buktikan kalau kamu bisa memahami psikologi audiens (manusia), bukan cuma algoritma mesin. Ceritakan pengalamanmu bernegosiasi atau kerja sama tim.
✨ Kamu Adalah Produknya!
Melamar kerja di bidang marketing adalah kesempatanmu mendemonstrasikan kemampuan secara real-time.
Jadikan dirimu sebagai “produk”, CV-mu sebagai “brosur”, dan wawancara sebagai “sales pitch”. Dengan fokus pada data, hasil, dan strategi, kamu akan berubah dari “pelamar biasa” menjadi kandidat unggulan yang siap membantu perusahaan bertumbuh.