Job fair itu medan tempur yang unik. Ramai, bising, dan serba cepat. Rekruter yang jaga stan mungkin sudah berdiri berjam-jam dan menghadapi ratusan wajah. Di tengah kekacauan ini, kamu cuma punya waktu—mungkin 2 sampai 5 menit—untuk bikin impresi yang “nempel”.
Banyak yang gagal bukan karena CV-nya jelek, tapi karena salah strategi. Mereka pikir job fair cuma ajang “sebar brosur CV”. Padahal, ini adalah interaksi bisnis mini.
Gimana caranya biar CV-mu nggak berakhir di tumpukan “nanti dulu”? Ikuti panduan etika dan komunikasi ini!
👔 FASE 1: Sebelum Tatap Muka (Persiapan Itu Rasa Hormat)
Penampilan dan kesiapanmu menunjukkan seberapa besar kamu menghargai waktu mereka.
-
Penampilan = Personal Brand Visual:
-
Jangan pernah datang pakai kaos oblong, jeans sobek, atau sandal. Itu “bunuh diri” karier.
-
Saran: Pakai smart casual atau bisnis profesional. Rapikan rambut dan pastikan napas segar.
-
-
Riset Itu Wajib, Bukan Sunnah:
-
Haram Hukumnya: Datang ke stan dan tanya, “Perusahaan ini geraknya di bidang apa ya, Kak?” 🚩
-
Komunikasi Efektif: “Saya mengikuti perkembangan proyek [Nama Proyek] di perusahaan Bapak/Ibu, dan saya sangat tertarik karena relevan dengan skill saya…” Ini baru inisiatif!
-
-
Siapkan ‘Amunisi’ yang Rapi:
-
Jangan bikin rekruter nunggu kamu bongkar tas cari CV yang lecek. Bawa map rapi.
-
🤝 FASE 2: Momen Tatap Muka (Seni 2 Menit)
Ini momen krusial. Fokusmu adalah membangun koneksi manusiawi yang profesional.
-
Antre & Sapa:
-
Sabar kalau ramai. Jangan nyerobot. Saat giliranmu tiba: Senyum, jabat tangan tegas (jika memungkinkan), dan kontak mata.
-
-
Keluarkan ‘Elevator Pitch’ (Maksimal 60 Detik):
-
Rekruter nggak punya waktu dengar dongeng hidupmu. Pakai rumus ini: Siapa Kamu + Keahlian Utama + Kenapa Tertarik.
-
Contoh:
“Saya Budi, lulusan Teknik Informatika spesialis Android Dev. Di magang terakhir, saya bantu tingkatkan efisiensi aplikasi sebesar 20%. Saya sangat tertarik dengan [Nama Perusahaan] karena fokus Anda pada inovasi fintech, dan saya yakin skill saya bisa berkontribusi.”
-
-
Tahu Kapan Harus Berhenti:
-
Kesalahan umum: keasyikan ngobrol padahal antrean di belakang sudah panjang. Lihat situasi. Kalau rekruter mulai gelisah, segera akhiri dengan sopan dan minta kartu nama/LinkedIn.
-
🚩 FASE 3: ‘Red Flags’ Etika (JANGAN LAKUKAN INI!)
Hindari perilaku ini kalau nggak mau namamu langsung dicoret:
-
CV Spammer: Jalan dari stan ke stan, taruh CV di meja tanpa nyapa, lalu kabur. Sia-sia!
-
Si Agresif: Maksa rekruter buat interview saat itu juga atau maksa minta nomor WA pribadi.
-
Si Mulut Ember: Jelek-jelekin mantan bos atau kompetitor di depan rekruter. Big no!
-
Kunyah Permen Karet: Terlihat sangat tidak profesional saat bicara.
📧 FASE 4: Setelah Pertemuan (The Follow-Up)
Etika berlanjut setelah kamu keluar gedung.
-
Tindak Lanjut Digital: Dalam 24-48 jam, kirim email singkat atau pesan LinkedIn.
-
Tips: Sebutkan hal spesifik dari obrolan kalian biar mereka ingat.
-
“Terima kasih atas waktunya kemarin. Saya sangat menikmati diskusi kita tentang tantangan tim marketing di [Nama Perusahaan]…”
-
✨ Ubah Pertemuan Singkat Jadi Peluang Emas
Di job fair, kamu tidak hanya dinilai dari isi CV, tapi juga dari bagaimana kamu membawa diri. Kombinasi antara persiapan matang, etika yang santun, dan komunikasi yang ringkas adalah kunci untuk mengubah 2 menit singkat menjadi peluang karier jangka panjang. Selamat berjuang!